Dilantik Wilianto Tanta, Alexander Irsiandi Resmi ‘Menahkodai’ PSMTI Papua Barat

Pengurus PSMTI Kabupaten Manokwari usai dilantik Ketua Umum PSMTI, Wilianto Tanta di Aula Navis, SMA Villanova, Susweni, Manokwari, Minggu, 2 Agustus 2026. Foto: CR18 Pengurus PSMTI Kabupaten Manokwari usai dilantik Ketua Umum PSMTI, Wilianto Tanta di Aula Navis, SMA Villanova, Susweni, Manokwari, Minggu, 2 Agustus 2026. Foto: CR18

Manokwari – Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Wilianto Tanta melantik pengurus PSMTI Provinsi Papua Barat dan PSMTI Kabupaten Manokwari masa bhakti 2026-2030 di Aula Navis, SMA Villanova, Susweni, Manokwari, Minggu, 2 Agustus 2026.

Pengurus PSMTI Provinsi Papua Barat dinahkodai, Alexander Irsiandi, sedangkan pengurus PSMTI Kabupaten Manokwari dinahkodai, Juliana Siarianti atau akrab disapa ibu Poppy.

Dalam sambutannya, Alexander Irsiandi mengutarakan, sejak terbentuknya PSMTI di tanah Papua, belum ada satu pun pengurus PSMTI Pusat yang datang ke Papua.

“Bapak (Ketua Umum PSMTI) sendiri berjanji empat tahun lalu, tahun 2022, di Makassar, saya minta bapak sudi bisa datang ke Papua. Ternyata, sudah empat tahun lewat, baru bapak bisa datang,” kata Irsiandi.

Ia berharap kepengurusan yang dipimpin Wilianto Tanta dan akan berakhir masa kepengurusannya, September 2026, bisa terpilih kembali. Sabtu, 1 Agustus 2026, ungkap Irsiandi, Ketua Umum PSMTI melantik pengurus PSMTI Provinsi Papua Barat Daya (PBD).

“Hari ini datang untuk melantik pengurus PSMTI Provinsi Papua Barat, sekaligus melantik pengurus PSMTI Kabupaten Manokwari, karena PSMTI Papua Barat, baru saja terbentuk sekarang,” papar Irsiandi sembari menyebut, PSMTI telah terbentuk di 38 provinsi dan 308 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Dikatakan Irsiandi, pelantikan ini bukan sekedar seremoni melainkan awal dari semua amanah untuk melayani masyarakat dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan semangat kebersamaan, terutama bagi sesama warga Tionghoa di Papua Barat.

“Pelantikan ini, ada yang hitam, ada yang putih, tetapi semua ini masih ada darah Tionghoa. PSMTI hadir sebagai organisasi sosial yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, gotong-royong, toleransi serta pengabdian kepada bangsa dan negara,” ujar Ketua PSMTI Papua Barat.

Di Papua Barat, sambung Irsiandi, keberagaman adalah kekuatan yang harus terus dipelihara, sehingga PSMTI berkomitmen untuk membangun hubungan yang harmonis dengan seluruh suku, agama, dan golongan serta menjadi mitra strategis pemerintah.

“Kepada semua pengurus yang baru dilantik, saya mengajak kita semua untuk bekerja dengan hati, mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi, memperkuat persatuan, menjaga nama baik PSMTI dan menghadirkan program-program yang nyata dan terasa manfaatnya oleh masyarakat,” pinta Irsiandi.

Ketua PSMTI Papua Barat, Alexander Irsiandi mengibarkan bendera pataka PSMTI usai dilantik di Aula Navis, SMA Villanova, Susweni, Manokwari, Minggu, 2 Agustus 2026. Foto: CR18
Caption: Ketua PSMTI Papua Barat, Alexander Irsiandi mengibarkan bendera pataka PSMTI usai dilantik di Aula Navis, SMA Villanova, Susweni, Manokwari, Minggu, 2 Agustus 2026. Foto: CR18

Korwil PSMTI se-Tanah Papua, Isak Montolalu sempat menceritakan tentang kilas balik suatu masa di mana orang Tionghoa tidak dapat menikmati apa yang menjadi adat istiadatnya, agama atau kepercayaan orang Tionghoa.

“Hari ini, semua itu dipulihkan. Imlek, kitong bisa rayakan. Barongsai bisa ikut meramaikan even pelantikan ini. Banyak hari raya yang merupakan hari raya tradisi Tionghoa, sekarang dapat kita nikmati. Itu semua perjuangan panjang dan itulah bagian dari perjuangan PSMTI,” kata Montolalu.

Ia juga sempat menyinggung tentang puisi dengan judul ‘Jangan Sebut Aku China’. Menurutnya, ini bukan hanya suatu statement yang dibacakan oleh seorang budayawan, tetapi lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 12 Tahun 2014 yang ditandatangani Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tidak ada lagi istilah China, tetapi memakai Tionghoa dan bahasa Mandarin.

“Untuk satu Keppres ini, benar-benar perjuangan murni dari Paguyuban Sosial Masyarakat Indonesia. Waktu itu, Paguyuban melayangkan surat kepada Presiden,” tambah Montolalu.

Sementara itu, Wilianto Tanta mengakui tentang janjinya, sebelum masa jabatannya berakhir, akan hadir ke tanah Papua. Lanjutnya, inilah pertama kali, ia dan keluarga menginjakkan kaki di tanah Papua yang sangat indah.

Ditegaskannya, dalam AD/ART PSMTI, tidak bisa berpolitik, hanya di bidang sosial dan budaya. Lanjut Tanta dengan bercanda terhadap Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan yang juga Ketua Partai NasDem Provinsi Papua Barat, seandainya PSMTI menjadi partai politik, mungkin tidak kalah dengan Partai NasDem.

“Tapi secara pribadi, itu bisa. Banyak anggota kami yang menjadi anggota DPR-RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten-kota. Begitu juga yang menjadi gubernur, bupati, dan wali kota. Setelah Reformasi 1998, baru ada keberanian dan keterbukaan, baru ada yang berpolitik, ada juga di kepolisian, kejaksaan, dan PNS. Itulah bentuk pembauran yang ada di Tanah Air kita,” tandas Tanta.

Ia menambahkan, Papua ini ternyata tidak seperti yang dibayangkan, jauh sekali, ternyata tidak. Sebab, jelas Tanta, masih banyak provinsi-provinsi yang pernah didatanginya, justru lebih tertinggal daripada Papua.

“Apabila tanah Papua ini aman dan bisa menerima, Papua ini akan tiga kali lebih maju daripada provinsi yang pernah saya kunjungi. Di mana ada keamanan, di situ pertumbuhan ekonomi yang sangat luar biasa,” ujar Tanta sembari menawarkan marga Tionghoa untuk Gubernur dan Pangdam XVIII Kasuari.

Ketua Umum PSMTI, Wilianto Tanta menyerahkan cinderamata kepada Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan di Aula Navis, SMA Villanova, Susweni, Manokwari, Minggu, 2 Agustus 2026. Foto: CR18
Ketua Umum PSMTI, Wilianto Tanta menyerahkan cinderamata kepada Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan di Aula Navis, SMA Villanova, Susweni, Manokwari, Minggu, 2 Agustus 2026. Foto: CR18

Sedangkan Gubernur Papua Barat mengatakan, orang Tionghoa, tidak hanya tinggal di kota, tetapi ada di pesisir pantai, pulau-pulau, pegunungan, dan lembah-lembah. “Mereka ada di mana-mana, tetapi tidak ke mana-mana, tinggal menetap membawa perubahan untuk orang Papua,” kata Mandacan.

Diakuinya, Papua Barat adalah tanah yang terdiri dari beragam suku, budaya, dan agama, bukan penghalang, melainkan kekuatan besar yang menyatukan sebagai suatu keluarga besar dalam bingkai NKRI.

“Hadirnya PSMTI di Papua Barat selama ini telah menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Tionghoa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pembangunan daerah ini. Hidup berdampingan secara harmonis dengan seluruh elemen masyarakat di Papua Barat,” jelas Gubernur.

Untuk pengurus PSMTI yang baru saja dilantik, Mandacan mengucapkan selamat. Menurutnya, amanah yang dipercayakan ini, bukan sekedar jabatan, melainkan tanggung jawab moral untuk terus merawat persaudaraan, memperkuat rasa kebangsaan serta berkontribusi aktif dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan di Provinsi Papua Barat, khususnya di Manokwari.

Pelantikan dihadiri Pangdam XIII Kasuari, Mayjen TNI Christian K. Tehuteru, Ketua Umum Persaudaraan Wanita Tionghoa (Perwanti), Helga Abraham, dan perwakilan Kejati Papua Barat, Joice E. Mariai, SH, MH. [CR18-R1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *